Oleh: Herry Prasetyo

BUKU MERAYAKAN KESULITAN
SEORANG rekan semula meminta saya menuliskan “renungan pendek” ini. Pesan dia hanya singkat, “Tolong tulis topik ‘harapan-harapan di tahun ini.” Saya pun mencoba menuliskannya. Tapi ketika menuangkannya menjadi suatu tulisan, tak semudah yang saya bayangkan. Apalagi hati saya sedang tidak berpengharapan. Kosong. Ada rasa penyerahan yang dalam, seakan di depan saya tidak menjanjikan kemenangan lagi. Ya, saya terpancing untuk menyerah. Jadi, tidak ada inspirasi sama sekali untuk menuliskan tentang ‘harapan’, apalagi menjadi sebuah tulisan yang bisa menginspirasi setiap orang yang membacanya.
Ya, saya sedang tidak berpengharapan saat menulis bab pendek ini. Ada kekosongan dalam diri saya. Namun, saya terus mencoba menuliskan apa yang ada di pikiran dan yang menyentuh hati saya. Mudah-mudahan, Anda yang membaca tulisan ini pun merasakan “sentuhan hati” karena dari sanalah ada makna yang bisa Anda bawa dan rasakan.
Apa yang saya rasakan, ternyata ada kesamaan antara tak berpengharapan dengan kekosongan. Tidak ada harapan = kosong. Tidak ada yang bisa saya lakukan dalam situasi seperti ini. Saya tidak bisa memaknai dan mensyukuri hidup. Saya kemudian menyadari ketika saya kehilangan harapan maka saya tidak mampu beranjak dari kekosongan itu. Saya tidak akan mampu berkarya, apalagi menghasilkan keberhasilan dalam hidup saya, jika hati dan pikiran saya kosong.
Berarti, hal utama dan mendesak yang harus saya lakukan adalah mengisi kekosongan, tak berpengharapan, dengan hidup yang penuh harapan. Hanya dengan sudut pandang demikian, saya pasti akan bisa mensyukuri hidup lalu melangkah memberi arti di tahun ini dengan sebanyak mungkin harapan. Harapan untuk menjadikan hidup dan berkat sebagai inspirasi terbaik menuju kualitas dalam berpikir dan bertindak.
Lalu bagaimana kekosongan itu harus diisi? Salah satu cara terbaik dan termudah yang bisa saya lakukan adalah dengan membuka diri terhadap kata-kata bijak yang menguatkan; entah dari mana saja sumbernya. Yang penting setiap katanya memberikan kesejukan, semangat untuk terus maju, dan mampu mengingatkan saya akan karunia hidup yang tak terdefinisikan. Kata-kata bijak itu tentu akan mampu menginspirasi dan mengubah hidup yang kosong menjadi “terisi” kemudian mendorong kita untuk berbuat, berusaha, bekerja keras dan cerdas, sehingga apa yang kita harapkan semoga tercapai.
Begitu setiap kata yang bermakna telah memandu kita maka sudah sewajarnya bila hati kita bersukacita dan bersyukur. Dalam hal ini, kita tidak seharusnya lupa mengucap syukur karena kebahagiaan yang bersumber dari Dia merupakan karunia yang tulus, tidak dibuat-buat. Oleh karena itu, apa pun situasi dan kondisi yang kita alami, termasuk ketika kita mengalami “krisis” dalam aneka rupanya, doronglah hati dan pikiran kita untuk terus memuji Tuhan.
Merajut Nyali, Memegang Prinsip
Mengubah hidup yang seakan tak berpengharapan menjadi hidup yang penuh syukur dan penuh harapan sering kali tidak mudah. Teori motivasi dan banyak firman Tuhan bolehlah kita santap setiap hari. Namun, jika tidak ada kemauan dan tekad dalam hati dan pikiran untuk mengubah hidup, sesulit apa pun, kita tidak akan bisa berubah. Terlebih, jika tidak ada nyali dan prinsip yang kuat bahwa kita harus berubah dan menjadi pemenang dalam setiap cobaan, kita bahkan akan menjadi pecundang dan tidak pernah beranjak dari kekosongan.
Oleh karena itu, miliki nyali dan prinsip yang kuat dalam setiap napas hidup kita. Bukankah kita selalu dalam penyertaan Tuhan sehingga dalam situasi apa pun kita tidak sendirian? Nah, apalagi yang perlu kita khawatirkan, termasuk ketika kita harus bergelut di dalam hidup yang seakan tidak berpengharapan karena selalu ada rasa khawatir, was-was, yang tentu akan merugikan langkah-langkah terbaik yang seharusnya bisa kita lakukan?
Mungkin hidup kita masih berada di dalam zona-yang tidak kita harapkan. Mungkin kita masih terus mencari kehidupan ideal yang kita idam-idamkan. Tantangan hidup yang bertubi-tubi kemudian seakan menghambat langkah dan tujuan yang ingin kita raih. Namun, apa pun itu, kita masih selayaknya bersyukur. Tinggal kita yang menentukan berhasil-tidaknya hidup kita, tinggal kita yang menentukan apakah kita bisa bersyukur dan berpengharapan karena Allah selalu berada di pihak kita. Oleh karena itu, kita perlu nyali, keberanian dan prinsip, untuk terus berusaha, berusaha, dan berusaha… tidak mengenal penyerahan diri yang sia-sia.
Akhirnya, rasa syukur dan pengharapan di tahun ini, perteguhlah dengan iman. Bukankah kita juga selalu diingatkan bahwa iman, pengharapan, dan kasih merupakan sumber inspirasi untuk menjadikan hidup kita lebih bermakna? “Kubersyukur Tuhan, karena tulisan ini pun mampu kuselesaikan.” Dan, saya bisa kembali untuk berkata, “Menyerah? Nggak akan pernah…”